Tentu kita pernah mendengar istilah “efek bola salju”, kejadian alam dimana saat satu butir salju menggelinding turun dari tempat tinggi lama-lama akan menjadi longsoran salju yang sanggup meluluh lantakkan sebuah kota, sungguh fenomena alam yang dahsyat..!
Ibarat efek bola salju di atas, tragedi “Brawijaya Obong’ 2008″ pada 16-Januari-2008 yang di lakukan oleh “setitik salju”, Aremania ternyata membawa dampak yang dahsyat bagi sepak bola Indonesia, terutama Liga Indonesia, bahkan hingga detik ini, 23.30 wib, 09-Februari-2008, untuk mencari jawara Liga Indonesia, belum pasti. Perjalanan waktu dari 16-Januari hingga 09-Februari ternyata menunjukkan betapa bobroknya sistem kompetisi di Negara ini, terutama para pengelola Liga Indonesia ini, suatu sistem manajemen yang sangat kacau, bisa di bilang manajemen ngawur, sak enak udele.
Amuk Aremania di stadion Brawijaya, Kediri, akhirnya membuka mata semua pihak, bahwa sepak bola Indonesia berada di titik nadir, bagaimana efek dari kejadian tersebut memunculkan banyak reaksi, mulai dari pakar sepak bola, pakar sosial kemasyarakatan, pakar media dan puncaknya pernyataan dari pemerintah yang diwakili menteri olahraga dan pemuda, yang akan memberhentikan perhelatan Liga Indonesia apabila semua komponen sepak bola Indonesia tidak mau berbenah dalam kurun waktu satu tahun. Dari semua pernyataan-pernyataan para pakar tersebut dan juga pak menteri, memang menyayangkan tindakan yang dilakukan oleh Aremania di Kediri, namun mereka dengan jujur mengakui bahwa tindakan itu merupakan ekses dari suatu sistem yang bobrok yang berjalan selama ini. Dan ternyata Aremania benar-benar menjadi salju yang menggelinding menabrak apa saja, karena dampak dari pernyataan-pernyataan tersebut membuat banyak pihak bereaksi dan menyoroti Liga Indonesia dan puncaknya Jum’at, 08-Februari-2008, pemerintah melalui Menegpora melarang partai final Liga Indonesia di laksanakan di Gelora Bung Karno. Pada detik itupun juga kita masih melihat dengan jelas betapa bobrok dan bodohnya pengelola sepak bola kita ini, PSSI, dengan enteng dan percaya dirinya yang kuat final di pindah hari Minggu ke stadion Jalak Harupat, Bandung dan apa yang terjadi hingga malam ini, Sabtu, 9-Februari-2008, pukul 23.30 wib, ijin dari Kapolda Jawa Barat belum keluar untuk perhelatan final Liga Indonesia, dan konyolnya pernyataan dari bapak Kapolda di salah satu media elektronik, bahwa hingga hari ini belum ada surat permohonan ijin dari PSSI “baik lewat telpon, fax ataupun sms tidak ada, mungkin pakai hati (telepati)…”luar biasa KEBODOHAN yang dilakukan oelh pengurus PSSI, entah apa isi benak mereka hingga kekonyolan-kekonyolan yang dilakukan terus menerus dan tanpa malu. Mungkin ini bisa menjadi catatan rekor dunia, kompetisi tanpa juara.
Seyogyanya Aremania merasa lega, hancurnya nama baik Aremania dengan tragedi Brawijaya, mendapatkan respon yang luar biasa dari berbagai fihak, dengan kejadian itu, Aremania membuka semua mata para petinggi dan pakar akan bobroknya sistem yang di jalankan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, yang berkedok mengharumkan nama bangsa, namun menghancurkan dari dalam, apaun kejadian yang di lakukan oleh Aremania pada waktu itu memang tidak benar, namun ternyata membawa dampak yang luar biasa, dan semoga ini akan menjadi bola salju yang benar-benar bisa meluluh lantakan bangunan sistem yang di buat oleh pengurus-pengurus PSSI yang akhirnya bisa membawa perubahan secara menyeluruh terhadap persepak bolaan Indonesia, andai begitu, maka kita harus angkat topi untuk tindakan yang dilakukan oleh Aremania, tapi bikan tindakan anarkisnya, tindakan yang berani melawan sistem yang sangat amburadul & tiran, semau sendiri, tindakan-tindakan Aremania yang sangat cerdas dan gentle dalam menghadapi sangsi yang di jatuhkan oleh PSSI untuk tidak mendukung tim Arema Malang, harus kita acungi jempol, memang sepertinya sepele tapi sangat luar biasa dampaknya.