Oleh: Arek Terminal Pandaan | Maret 23, 2008

Tangan Tuhan

“MALANG KUCECWARA” merupakan moto dari kota Malang, yang mempunyai beberapa arti, namun intinya adalah “TUHAN AKAN MENGHANCURKAN YANG BHATIL”, mungkin aksi yang dilakukan oleh Aremania, pendukung klub Singo Edan, Arema Malang ini, pada hari Selasa, 25-Maret-2008 di Bunderan Hotel Indonesia lusa, adalah “TANGAN TUHAN” untuk melibas KEBOBROKAN PSSI yang berjalan selama ini, tipu daya, licik, korup dan semena-mena sudah terlalu mengakar di tubuh PSSI dan sudah waktunya di cuci bersih dan TUHAN menggunakan tangan-NYA melalui Aremania dan kelompok supporter yang lain untuk mencuci ke-BHATILAN PSSI.

Bila dilihat baru kali kedua ini Aremania turun melakukan aksi, namun dua kali ini memang pada saat yang tepat, pertama pada saat PSSI menunjukkan KEBODOHANNYA dengan tidak mendaftarkan wakil Indonesia di ajang Liga Champion Asia, yang dampaknya sampai saat ini Indonesia tidak mempunyai wakil di LCA, betapa malunya Indonesia, sebagai pemilik liga terbesar di dunia, tidak mempunyai wakil di ajang Internasional, KEBODOHAN & KETOLOLAN pertama yang di lakukan, entah mungkin kurang puas dengan melihat aksi Aremania yang pertama itu, PSSI masih bertahan dan berjalan dengan GAYA TOLOL ala Nurdin Cs, dengan tidak mengindahkan teguran dari AFC dan FIFA yang merupakan induk dari PSSI, bahkan merasa BENAR! dengan apa yang mereka jalankan, ibarat pepatah “Anjing menggogong Kafilah berlalu”.

Kalau kita lihat,setelah terjadi aksi ala Singo Edan di Kediri, banyak reaksi bermunculan hingga akhirnya pemerintah Indonesia gerah melihat KETOLOLAN yang di lakukan PSSI, bahkan dalam suatu acara di sebuah media elektronik pun, bapak Menteri pun seperti tidak berdaya menghadapi “Keluguan” ala Nugroho Besoes yang dengan wajah tanpa dosa menghadapi tekanan berbagai pihak dengan enteng.

Aksi kedua lusa yang di lakukan oleh Aremania yang di dukung oleh komunitas supporter lain merupakan aksi penyelematan yang di lakukan untuk persepak bolaan Indonesia agar tidak semakin TERPURUK dan TERJEREMBAB dalam kejurang yang NISTA karena ulah segelintir orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan abnormal.

Kita semua tentu tidak rela melihat wajah sepak bola kita yang caru marut ini semakin terperosok dengan hukuman yang dijatuhkan oleh AFC & FIFA, betapa tidak ada rasa kebanggan kita terhadap Negara ini hanya karena ulah orang-orang bobrok! ini, kita akan di permalukan, di hilangkan harga diri bangsa dan hilangnya kebanggan 11 orang pemain yang menggunakan GARUDA MERAH PUTIH di dada mereka dan yang paling mengenaskan akan hilangnya kumandang Indonesia Raya di seluruh jagad persepak bolaan dunia, betapa para pendiri dan sesepuh sepak bola Indonesia, bp. Suratin, bp. Ramang, bp. Sucipto dll, akan menangis melihat hasil perjuangan mereka dihancurkan oleh segelintir orang-orang yang RAKUS akan kekuasaan dan materi.

Semoga aksi teman-teman Aremania dan yang lain merupan perpanjangan TANGAN TUHAN untuk menghancurkan kebathilan ini, dan semoga aksi ini akan membawa perubahan ke masa depan sepak bola Indonesia yang lebih membanggakan dan maju.

SELAMAT BERJUANG KAWAN…!!!

Oleh: Arek Terminal Pandaan | Februari 9, 2008

Bola Salju Aremania

Tentu kita pernah mendengar istilah “efek bola salju”, kejadian alam dimana saat satu butir salju menggelinding turun dari tempat tinggi lama-lama akan menjadi longsoran salju yang sanggup meluluh lantakkan sebuah kota, sungguh fenomena alam yang dahsyat..!

Ibarat efek bola salju di atas, tragedi “Brawijaya Obong’ 2008″ pada 16-Januari-2008 yang di lakukan oleh “setitik salju”, Aremania ternyata membawa dampak yang dahsyat bagi sepak bola Indonesia, terutama Liga Indonesia, bahkan hingga detik ini, 23.30 wib, 09-Februari-2008, untuk mencari jawara Liga Indonesia, belum pasti. Perjalanan waktu dari 16-Januari hingga 09-Februari ternyata menunjukkan betapa bobroknya sistem kompetisi di Negara ini, terutama para pengelola Liga Indonesia ini, suatu sistem manajemen yang sangat kacau, bisa di bilang manajemen ngawur, sak enak udele.

Amuk Aremania di stadion Brawijaya, Kediri, akhirnya membuka mata semua pihak, bahwa sepak bola Indonesia berada di titik nadir, bagaimana efek dari kejadian tersebut memunculkan banyak reaksi, mulai dari pakar sepak bola, pakar sosial kemasyarakatan, pakar media dan puncaknya pernyataan dari pemerintah yang diwakili menteri olahraga dan pemuda, yang akan memberhentikan perhelatan Liga Indonesia apabila semua komponen sepak bola Indonesia tidak mau berbenah dalam kurun waktu satu tahun. Dari semua pernyataan-pernyataan para pakar tersebut dan juga pak menteri, memang menyayangkan tindakan yang dilakukan oleh Aremania di Kediri, namun mereka dengan jujur mengakui bahwa tindakan itu merupakan ekses dari suatu sistem yang bobrok yang berjalan selama ini. Dan ternyata Aremania benar-benar menjadi salju yang menggelinding menabrak apa saja, karena dampak dari pernyataan-pernyataan tersebut membuat banyak pihak bereaksi dan menyoroti Liga Indonesia dan puncaknya Jum’at, 08-Februari-2008, pemerintah melalui Menegpora melarang partai final Liga Indonesia di laksanakan di Gelora Bung Karno. Pada detik itupun juga kita masih melihat dengan jelas betapa bobrok dan bodohnya pengelola sepak bola kita ini, PSSI, dengan enteng dan percaya dirinya yang kuat final di pindah hari Minggu ke stadion Jalak Harupat, Bandung dan apa yang terjadi hingga malam ini, Sabtu, 9-Februari-2008, pukul 23.30 wib, ijin dari Kapolda Jawa Barat belum keluar untuk perhelatan final Liga Indonesia, dan konyolnya pernyataan dari bapak Kapolda di salah satu media elektronik, bahwa hingga hari ini belum ada surat permohonan ijin dari PSSI “baik lewat telpon, fax ataupun sms tidak ada, mungkin pakai hati (telepati)…”luar biasa KEBODOHAN yang dilakukan oelh pengurus PSSI, entah apa isi benak mereka hingga kekonyolan-kekonyolan yang dilakukan terus menerus dan tanpa malu. Mungkin ini bisa menjadi catatan rekor dunia, kompetisi tanpa juara.

Seyogyanya Aremania merasa lega, hancurnya nama baik Aremania dengan tragedi Brawijaya, mendapatkan respon yang luar biasa dari berbagai fihak, dengan kejadian itu, Aremania membuka semua mata para petinggi dan pakar akan bobroknya sistem yang di jalankan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, yang berkedok mengharumkan nama bangsa, namun menghancurkan dari dalam, apaun kejadian yang di lakukan oleh Aremania pada waktu itu memang tidak benar, namun ternyata membawa dampak yang luar biasa, dan semoga ini akan menjadi bola salju yang benar-benar bisa meluluh lantakan bangunan sistem yang di buat oleh pengurus-pengurus PSSI yang akhirnya bisa membawa perubahan secara menyeluruh terhadap persepak bolaan Indonesia, andai begitu, maka kita harus angkat topi untuk tindakan yang dilakukan oleh Aremania, tapi bikan tindakan anarkisnya, tindakan yang berani melawan sistem yang sangat amburadul & tiran, semau sendiri, tindakan-tindakan Aremania yang sangat cerdas dan gentle dalam menghadapi sangsi yang di jatuhkan oleh PSSI untuk tidak mendukung tim Arema Malang, harus kita acungi jempol, memang sepertinya sepele tapi sangat luar biasa dampaknya.

Oleh: Arek Terminal Pandaan | Februari 6, 2008

Selembar Kertas

Sekarang di suruh kuliah untuk ambil S1 untuk registrasi guru” seorang kepala sekolah berkata, “padahal 2 tahun lagi aku sudah pensiun” lanjutnya..

Ungkapan seorang guru yang harus mengikuti aturan dari pemerintah, bahwa guru seluruh Indonesia harus registrasi, dengan minimal pendidikan sarjana..aturan konyol ke dua kali yang muncul dari sistem pendidikan Indonesia, setelah system ujian nasional.

Entah apa yang dim au, kalau semua guru harus registrasi denga syarat tersebut, padahal kebanyakan guru-guru senior dewasa ini adalah produk-produk jaman Orde Lama, yang notabene kebanyakan jebolan dari Sekolah Pendidikan Guru, apakah kalau tidak registrasi, beliau tidak di akui sebagai seorang guru, bagaimana dengan pengabdiannya yang sudah puluhan tahun dan banyak melahirkan cerdik cendekia di negeri ini, apakah beliau, sang guru tersebut, harus memiliki selembar kertas yang namanya ijasah sarjana…konyol.

Yang jadi pertanyaan, apakah dengan menggegam ijasah sarjana kelak akan menjadi seorang guru yang mumpuni, yang dapat menghasilkan cendekiawan-cendekiawan semodel pak Habibie di negeri ini..??, okelah kalau itu guru untuk setingkat sekolah menengah atas dan universitas, kalau untuk sekolah dasar, sebuah masa peletakan dasar ilmu pendidikan, karena disinilah letak keberhasilan sistem pendidikan di pola pendidikan dasar, di saat inilah di butuhkan profil seorang yang bisa “digugu dan ditiru”, pondasi kemampuan seorang anak di bentuk pada masa ini, inilah saat dibutuhkan seorang guru yang benar-benar matang, tidak hanya menggenggam selembar kertas yang bernama ijasah sarjana.

Kasihan kalau melihat bapak dan ibu guru yang produk dari jama lama, sepertinya para petinggi negeri ini tidak percaya akan kemampuan beliau-beliau tersebut, padahal aku termasuk produk dari guru yang tidak memegang ijasah sarjana, juga puluhan teman-temanku sekolah dasar dulu, mereka juga produk guru-guru tidak berijasah sarjana, mereka malah terbilang sukses, bahkan ada yang berposisi sebagai top manajemen di sebuah perusahaan.

Himbaunku untuk para petinggi negeri ini, mbok kalau bikin aturan itu di analisa yang bener-bener tidak asal bikin aturan yang kalau di ikuti tingkat efektifitasnya jauh dari harapan dengan hasil yang tidak memuaskan, gunakan akal sehat untuk menganlisa dengna system pendidikan nasional, jangan sembarangan, karena di sanalah letak masa depan negeri ini, system pendidikan kacau, jangan harap negeri ini akan menuai kemakmuran dan keadilan. Ajaklah duduk bersama para cerdik pandai dan masyarakat-masyarakat yang layak di ajak untuk duduk bersama mendiskusikan rencana system yang baik, agar kelak bangsa ini mempunyai bibit yang unggul, jangan hanya berasumsi bahwa kalau sudah memegan selmbar kertas ijasah sarjana akan menjadi calon pendidik yang benar-benar dapat menghasilkan produk yang unggulan.

Ingat, bahwa pendidikan tidak hanya teori dan ilmu-ilmu pelajaran, satu hal yang penting adalah pembentukan karakter.

Oleh: Arek Terminal Pandaan | Januari 27, 2008

Selamat Jalan Eyang Jenderal


Innalillahi Wa Innalillahi Roji’un, Ahad, 27-Januari-2008, pukul 13.10 wib, Selamat Jalan Eyang Jenderal Haji Muhammad Soeharto, presiden Republik Indonesia ke 2, semoga arwah beliau di terima di sisi-NYA, Amin.

Perjuangan dan jasa-jasamu terhadap negeri ini tidak akan kami lupakan, hitam dan putihmu memimpin bangsa yang besar ini akan kami kenang. 32 tahun memimpin negeri ini ibarat sebuah perjalanan panjang seorang anak manusia dalam menjalankan kewajibannya sebagai titah dari yang kuasa, kita tidak menutup mata akan jasa-jasa yang telah di berikan beliau kepada bangsa ini, sebagai seorang manusia, maka Eyang Jenderal lebih berguna dan bernilai daripada manusia yang hanya bisa menghujat dan berteriak tanpa arti, seperti yang dikatakan sabda Rassullullah SAW, “manusia yang berguna adalah manusia yang memberi manfaat bagi orang lain”. Selama 32 tahun bangsa ini telah merasakan akan sentuhan beliau dengan berbagai macam keadaan, selama 32 tahun bangsa ini telah menjadi bangsa yang mempunyai rasa percaya diri di negara-negara tetangga.

Biarlah mereka yang berteriak menghujatmu, mereka hanya bisa berteriak tanpa memberikan apapun pada negeri ini, hanya menambah semrawut dan kacau Ibu Pertiwi, maafkan mereka yang menghujatmu dan meneriakimu, karena mereka sebenarnya orang-orang yang bodoh, orang-orang yang tidak di butuhkan oleh negeri ini. Sebagai manusia biasa, Eyang Jenderal tidak terlepas dari kesalahan dan kekhilafan, entah itu di sengaja ataupun tidak di sengaja, tapi apapun Eyang telah memberikan sesuatu ke negeri ini.

SELAMAT JALAN EYANG JENDERAL SOEHARTO, SEMOGA ARWAHMU TENANG DI SISI SANG KUASA.

Oleh: Arek Terminal Pandaan | Januari 24, 2008

Segitiga Bermuda ala Indonesia

Kita semua tentu mengenal atau mendengar istilah Segitiga Bermuda, yaitu suatu daerah territory Britania raya, antara Bermuda, Miami dan Florida yang banyak mengandung misteri yang hingga kini masih banyak menimbulkan perdebatan dan diskusi mengenai fenomena yang terjadi di wilayah tersebut, mulai cerita Columbus yang melihat cahaya kemilau di daerah tersebut hingga yang paling fenomenal, Penerbangan 19, 5 Desember 1945, hilangnya pesawat pembom Amerika. Hingga kini Segitiga Bermuda ini, sering di sebut juga dengan Segitiga Setan, masih menjadi polemik dan perdebatan dengan banyak kejadian misteri di daerah tersebut.

Mengenai Segitiga Setan ini sepertinya secara harfiah geografisnya mulai berpindah, tidak lagi berada di wilayah Bermuda, semenjak 2003 pergeseran julukan Segitiga Bermuda atau Segitiga Setan ini perlahan mulai bergeser ke wilayah Indonesia, setelah 13 September 2007, keberadaan Segitiga Setan ini semakin jelas keberadaannya, sekarang tidak lagi berada di Bermuda, Miami dan Florida, namun bergeser di Senayan, Kuningan dan Salemba semua berada di Wilayah DKI Jakarta.

Kenapa bisa berpindah? Apa yang menjadi parameter bahwa Senayan, Kuningan dan Salemba bisa di sebut dengan Segitiga Setan, bahwa kontroversi dan misteri kedua daerah segitiga itu sama, bahkan Segitiga Setan ala Indonesia ini lebih penuh misteri dan kontroversi. Tentu banyak yang bertanya-tanya mengenai ke tiga daerah itu kenapa bisa di sebut dengan Segitiga Setan.

Yap..misteri sepak bola Indonesia semuanya berawal dari Segitiga ini, dimulai dengan aturan yang tidak jelas dan inkonsisten, hingga misteri ngotot dipertahankannya seorang narapidana menjadi figur seorang pemimpin,yang secara akal dan nurani sehat, tentu menimbulkan banyak pertanyaan, “kalau pemimpinnya seorang napi, terus anak buahnya apa…???”, menarik melihat diskusi yang ditampilkan oleh salah sebuah stasiun televisi mengenai sepka bola Indonesia, Sepak Bola Indonesia, Prestasi No, Rusuh Yes, itu tema yang diangkat, lebih menarik kalau kita cermati diskusi yang berjalan, dari semua perkataan nara sumber atau audiens bisa dibilang mengerucut ke dalam satu kata yang menjadi pokok permasalahan sepak bola Indonesia itu, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia, atau umumnya disebut PSSI, yah semua menilai akar permasalahannya adalah di situ, sempat terbetik kata dari pembawa acara, poros dari sepak bola adalah Senayan dan Rutan Salemba. Di dalam diskusi ada pertanyaan dari salah seorang audiens mengenai wacana penggantian sang pemimpin & pemotongan satu generasi, denagn enteng sang sekretaris jenderal menjawab “apa untungnya..??” suatu jawaban yang mencerminkan bahwa organisasi ini di isi oleh orang-orang yang sangat tidak gentle, pasrah dan tidak bertanggung jawab, wajar jika di Wikipedia di tertulis “Dia juga dikenal sebagai bajingannya PSSI karena suka mencuri uang negara yang sangat banyak. Dampak dari perbuatannya adalah PSSI dilarang mengirimkan wakilnya di Piala Champions Asia musim 2008/2009.”, apakah dengan kondisi seperti itu sang pemimpin harus tetap di pertahankan?, pertanyaannya dengan mempertahankan seorang pesakitan penjara, apakah orang-orang yang mempertahankan itu orang yang wajar.SUNGGUH SUATU MISTERI YANG SUSAH DI KUAK!, sama dengan misteri hilangnya Penerbangan 19 di Segitiga Bermuda yang hingga detik ini belum bisa dibuktikan.

Belum lagi misteri kenapa klub-klub peserta Liga Indonesia mati-matian ngotot menggunakan dana APBD yang seharusnya secara proporsional jatah untuk pendidikan & kesehatan lebih tinggi tapi tersedot oleh untuk menggaji para pemain klub daerah itu, dengan alasan sepak bola adalah hiburan rakyat dan ajang pembinaan pemain-pemain berbakat, kalau dilihat jumlah klub yang mengikuti kompetisi di Indonesia ini, 446 klub seharusnya prestasi sepak bola Indonesia merajai kawasan Asia, namun ibarat mencari jarum di tumpukan jerami, susahnya mencari pemain yang hebat di tanah ini, terus mana hasil pembinaan yang di koar-koarkan oleh para kepala daerah yang mempunyai klub tersebut. Sebenarnya hal sudah menjadi suatu misteri semenjak tahun 1994, sewaktu penggabungan amatir & professional menjadi Liga Indonesia, padahal para pengurus PSSI berkoar itu merupakan liga professional, yah dimana-mana itu kalau professional tidak nyusu dana dari induknya.

Sepertinya terlalu banyak misteri yang terjadi di daerah segitiga ini, Senayan, Kuningan dan Salemba, lama kelamaan kontroversi Segitiga Bermuda akan kalah dengan Segitiga Senayan, Kuningan, Salemba.

 

Tulisan Sebelumnya »

Kategori